Pengertian dan Manfaat Tirakat dalam Ilmu Jawa

Mungkin kita sudah tidak asing dengan istilah tirakatan malam satu suro atau dalam moment lain yang melibatkan manfaat tirakat didalamnya. Kalau membahas lebih jauh tentang pengertian tirakat, mungkin perlu mengkaji ulang dan membaca banyak referensi karena definisi dari tirakat tidak hanya mengacu pada ‘tidak tidur malam hari’ seperti yang biasa kita sangka sebelumnya. Banyak orang beranggapan bahwa ketika dia ingin melakukan tirakatan maka cukup menyediakan secangkir kopi hitam dan sebungkus r0kok, maka itu namanya sudah tirakat.

Namun dalam kebiasaan hidup masyarakat Jawa khususnya yang mendalami ilmu kejawen, tirakat merupakan proses pembersihan jiwa yang juga adalah menyeimbangkan antara tujuan hidup jasmani dan rohani dimana hal itu harus dilakukan bagi yang ingin mencapai tingkatan tertentu dari ilmu yang dipelajari, atau mencari ketenangan batin sehingga mampu mengerti arti sejatinya hidup ini.

Lelaku tirakat sebenarnya adalah dari niat kita sendiri yang kuat untuk dapat mencapai satu titik pembersihan diri dimana saat itu nafsu dunia akan ditanggalkan demi memenuhi kebutuhan batin sehingga dapat melihat dengan jelas ilmu sejati dari dalam diri manusia dan mengenal lebih dalam segala kehidupan sebenarnya yang telah diciptakan olehNya.

Ada banyak macam tirakat yang biasa dilakukan masyarakat Jawa, salah satunya adalah dengan bersemedi atau meditasi. Melakukan meditasi adalah untuk melihat dunia ini dari sisi yang berbeda, membiarkan jiwa mendengar bisikan alam serta memperoleh ketenangan yang paling tinggi dalam hidup ini, karena pada saat bersemedi segala keinginan duniawi seperti makan, minum, dan bergaul dengan orang lain semua itu harus kita tinggalkan.


Dalam ilmu kejawen juga ada lelaku tirakat lainnya yang tidak kalah penting dijalani. Misalnya puasa mutih, puasa pati geni dan puasa kejawen lainnya. Sebagai contoh adalah puasa mutih, dimana dalam menjalani puasa ini kita hanya diperbolehkan makan sahur dan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang tawar, tidak berasa dan tidak berwarna. Puasa ini biasa dilakukan dalam rentang waktu antara 3-7 hari tergantung dari tujuan melakukan puasa tersebut. Salah satu ilmu Jawa yang mengharuskan puasa mutih sebagai syaratnya adalah pada saat seseorang Belajar Ajian Semar Mesem untuk tujuan pengasihan.

Jadi dapat diartikan bahwa proses tirakat dilakukan untuk tujuan mendapatkan ketenangan dalam hidup ini, memohon kepada Tuhan untuk diberikan kemudahan dalam melakukan tujuan tertentu dan mencapai tingkatan hidup yang lebih baik melalui tahapan puasa dan ketenangan jiwa.

Dijaman modern seperti sekarang ini, prosedur tirakat bisa menjadi terlihat sangat berat apabila dilihat oleh orang awam yang sudah terbiasa dengan gemerlap harta dunia dan kemewahan. Karena untuk dapat menjalani lelaku prihatin maka kita tidak memerlukan semua itu, dan dengan niat suci akan berjalan menuju kehidupan yang bersih dari nafsu duniawi serta keserakahan.


No Responses